Jumat, 30 Desember 2011

Senin itu 26 Januari 2009 bapak meninggal, masih ku ingat ppukul 04.25 selepas adan subuh dia hembuskan nafas penghabisan, menghadap sang penciptanya.Sholat subuhku pagi itu berurai air mata, deras.Tangisan kakak dan adik-adikku coba kutengahi betapa bapak menginginkan kita anak-anak untuk menjadi anak yang berbakti.Ada gurat ikhlas dari menutup matanya, karena sebelumnya sudah banyak wasiat yang dia tuturkan untuk kami anak-anaknya.
Dia, bapakku  memang tak pernah meninggalkan apa-apa untuk kami anak-anaknya, hanya sebidang tanah yang di tempati rumahnya dan kakakku yang kedua. Namun rentang sejarah semasa hidupnya, banyak filosopi yang di bangun untuk kami, diajarkan bagaimana hidup yang punya norma dan agama, dia ajarkan tentang kemandirian, ulet ,teguh pendirian. Hingga saat ini kami anak-anaknya menjadi orang yang mandiri. Bapakku memang termasuk orang yang biasa saja, tidak ada yang istimewa dalam dirinya, namun ada satu kebanggaan buat kami yaitu dia tak pernah mengeluh dan pantang menyerah.
di hari kematiannya senin pagi itu di sambut dengan rintik hujan dan kilat serta guruh,seakan mengilhami dan memberi kabar kepada manusia di dunia ini, bahwa ada manusia istimewa yang meninggal. Aku berdoa semoga hujan itu bukanlah fitnah atas kematianya, namun rahmat Allah yang tak terkira buat masyarakat kami yang nota bene adalah petani, yang memang sangat membutukan air karena menurut kabar teman yang bekerja di Perum PJT II bahwa pasca banjir yang menjebolkan tanggul kali Citarum dan tanggul irigasi maka Pemerintah daerah kotaku perlu waktu untuk memperbaiki tanggul-tanggul tersebut.
Berbondong manusia datang melayat, turut ikut berduka dan berbela sungkawa kepada kami, ucapan kata sabar dan tabah datang silih berganti untuk kami. Betapa perkawanan dan pertemanan  sesama manusia di buktikan dengan budaya melayat.
Kilat dan Hujan serta sempitnya rumah kami di tambah jalan yang becek dan licin tidak menjadi halangan para pelayat itu, seakan ingin ungkapkan kata dan tatapan terakhir untuk bapak ku.

Minggu, 25 Desember 2011

suarakoe

Untuk anakku

ku tanam pohon ini
untukmu sayang!
kelak akan berbunga harapan
yang bisa kau pandangi sayang

terus tumbuh,menaungi
dari terik matahari
dari rintik hujan
teduh dalam sepoi angin senja
Ku tanam pohon ini, sayang!!
dalam hitungan jajar yang rapi
kelak putik itu kan berbuah
yang bisa kau petik sayang!!

bila nanti waktu bicara
dalam masa mengembara
jadikan pohon itu
sebagai kenangan tak terlupa

 sengaja pohon itu ku tanam
rawat,pupuk,siramlah tanpa lelah
kelak kau akan tahu
betapa sayang aku padamu

candi, medio 2008

suarakoe

Bunda, AL-HUSNA
Di rembangpetang mereka pulang
dengan keringat panas tanah Karawang
peluh pilu pinggir citarum segartanjung
tersapu sejuk semilir angin pantai pakisjaya

gerimis jatuh satu-satu
di senja sore keemasan
matahari yang akan pulang kesarang
turun lembab di pelataran candi jiwa

bulir-bulir itu malai bernas
gemuruh dada terbayar tunai
dengan senyum kemenangan
 bakti pada negeri pertiwi

( untuk Bunda dan teman Al Husna) maret 2010

kampoengkoe

Cerita dari pinggir Citarum

Evi kecil menatap lembaran-lembaran buku tulisnya mengambang, dia tertawa riang. Lembaran itu seperti perahu, pensil warnanya tenggelam tak dia perdulikan, entah kemana. sepatu warna pinknya hadiah lebaran ikut hanyut kelaut, malam ketika dia masih tidur, pagi itu sisa lumpur menggunung kecil di sekitar rumahnya. kaki kecil itu berlari sampai di gerbang sekolahnya yang tak berpagar, lambaian sang ibu guru muda memanggilnya. masuk kelas dilipat tangannya berdoa dengan suara lantang dan riang. Evi kecil tertegun ketika hendak menulis, dia tak menangis karena tas biru muda bergambar boneka barby berisi mainannya, bukunya telah ia keluarkan sebelum banjir datang. Evi kecil bermain riang dengan mainannya.
(Sehari Sebelum banjir Citarum)

suarakoe

Sekolahku dalam kenangan

kawan.....
setahun yang lalu
kau masih di sini
di bawah pohon angsana
dalam lembar buku-buku

kawan......
hari ini ..........
kau dan kawan-kawanmu
jua pergi dan terbang ke langit cita-cita
tinggalkan sekolah tercinta,tinggalkan kami,
guru dan adik kelasmu


kawan.......
di sekolah ini, tiga tahun bersama
bercanda,tertawa, kadang sedih berurai air mata
banyak goresan kenangan tergurat


kawan.......
esok kau tidak lagi bersama kami
sebelum pulang, pamitlah pada kami
cium tangan guru-gurumu
agar restu mengiring langkah tegapmu


sampai di rumah, ketuk pintu ucapkan salam
sungkem pada ayah dan ibu
bila ayah atau ibumu telah tiada
taburkan bunga-bunga di atas pusaranya
simpuhlah dalam tangkup doa-doa
sebagai bakti dari bukti dan rasa terimakasih


kawan.....
esok matahari tetap bersinar
tatap,tegap dan songsonglah!!
ukir indah kebanggaan dalam masamu
jadilah bintang yang bersinar
jadilah garuda-garuda perkasa
kepakkan sayap kokohmu
gemuruh di angkasa raya


kawan......
ukirlah senyum kebanggaan
untuk orang tuamu
untuk kami guru-gurumu
berjanjilah kawan.....


mei 2011

kampoengkoe


1983
Selasa empat Mei 1976, aku dilahirkan entah jam berapa. Hari , tanggal tertera jelas di akte kelahiranku. Tahun 1983 aku masuk sekolah dasar induk di desa ku, kelas dengan ubin yang dingin dan selalu berpindah. Perpustakaan yang komplit dengan bacaan bergambar menjadi serbuanku saat istirahat, kepada penjaga mendaftar dengan uang sewa buku, boleh di bawa pulang dengan waktu 3 hari. Jajanan yang membuat ku kenyang yaitu “gado-gado’ kangkung dengan bumbu kacang, makanan khas wa sene, biasa dipanggil seperti itu. sambil makan , aku sering menonton pertunjukan kakak kelas yang sedang latihan angklung, kesenian tradisi jawa barat. Kerap kali bermain di empang samping kelas satu, mencari kecebong.
Kampungku kearah utara dari pusat desa, kampung yang memanjang mengitari pesawahan luas, hijau pada saat tandur, kuning keemasan saat menjelang panen raya. Pekerjaan masyarakatnya hanya bertani padi sawah, kadang di selingi pekerjaan sampingan seperti jual beli ternak ayam, entog dan kambing. Jalan tanah memanjang satu arah ke desa tetangga yang berbatasan dengan laut jawa menjadi satu-satunya sarana transportasi.
Sepulang sekolah aku dan kawan-kawan,biasa menggembalakan kambing domba dan kambing jawa. Ngangon adalah pekerjaan anak kampung kami,bila panen telah selesai kambing-kambing di angon ke petak – petak sawah, bila musim tanam dan penghujan, kami ngarit rumput d tanggul sungai Citarum di desa tetangga. Rutinitas seperti itu tidak pernah membuat kami lupa bahwa kami anak kelas satu SD induk desa kami, belajar tetap kami lakukan di malam hari bada magrib selepas mengaji di kong dul. Mengaji bagi kami sebuah kebutuhan walau dengan cara mengaji nalar, yaitu surat- surat juz ama kami hapalkan. Uniknya tradisi dalam mengaji bila ada anak yang bacaannya sampai di surat lam yakunil, maka si anak itu wajib membawa nasi kuning lengkap dengan lauk ayamnya dan di bagikan kesetiap anak yang mengaji,demikian juga ketika naik bacaan ke Al-quran, maka si anak wajib membawa nasi uduk sebagai pertanada bahwa dia naik bacaan.
Kadang kami ngangon ke unur yang ada di tengah-tengan pesawahan, unur jiwa (kelak dikenal Candi Jiwa),yang lebat dengan rumput hijau dengan batu-bata yang kadang kami susun seperti benteng dan tempat kami bermain perang-perangan.ketika kambing- kambing kami asyik merumput dan kami selesai bermain perang-perangan, kami pergi ke unur wa nebih( sekarang di kenal candi Blandongan), mencari buah-buahan seperti pepaya masak, sirsak dan ciplukan sejenis rumput yang berbuah enak di makan. Kedua unur ini oleh masyarakat kami dikenal angker, cerita dari mulut ke mulut orang-orang tua kami. Namun kami anak-anak yang masih polos, belum mengerti tentang dunia mistis, angker dan hal-hal yang menyeramkan. Kami asyik bermain sambil ngangon kambing. Memang bila di lihat dari luar pagar bambu unur jiwa dan unur wa nebih, dengan lebatnya pepohonan kesan angker memang adanya.
Bersambung…………

Gaya Belajar Siswa Menurut David Kolb

Posted by
Gaya Belajar Kolb Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengisyaratkan bahwa dalam proses pembelajaran, seorang guru seyogyanya dapat memperhatikan karakteristik siswanya. Karakteristiktik siswa sesungguhnya memiliki cakupan yang luas. Salah satu karakteristik siswa yang perlu diperhatikan guru dan akan mewarnai  terhadap efektivitas belajar dan pembelajaran yaitu berkenaan dengan gaya belajar siswa.
Secara sederhana, gaya belajar siswa atau student learning style dapat diartikan sebagai karakteristik kognitif, afektif, dan perilaku psikologis seorang siswa tentang bagaimana dia memahami sesuatu, berinteraksi dan merespons lingkungan belajarnya, yang bersifat  unik dan relatif stabil.

Dalam berbagai literatur tentang belajar dan pembelajaran, kita akan menjumpai sejumlah konsep tentang gaya belajar siswa, dan salah satunya adalah gaya belajar sebagaimana dikemukakan oleh David Kolb, salah seorang ahli pendidikan dari Amerika Serikat, yang mempopulerkan teori belajar “Experiential Learning” .
Kolb mengklasifikasikan Gaya Belajar Siswa ke dalam empat  kecenderungan utama yaitu:
  1. Concrete Experience (CE).  Siswa  belajar melalui perasaan (feeling), dengan menekankan segi-segi pengalaman kongkret,  lebih mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain.  Siswa melibatkan diri sepenuhnya melalui pengalaman baru,  siswa  cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapinya.
  2. Abstract Conceptualization (AC).  Siswa belajar melalui pemikiran (thinking) dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Siswa menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori yang sehat, dengan mengandalkan pada perencanaan yang sistematis.
  3. Reflective Observation (RO). Siswa belajar melalui pengamatan (watching), penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Siswa akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini/pendapat, siswa mengobservasi dan  merefleksi pengalamannya dari berbagai segi.
  4. Active Experimentation (AE). Siswa belajar melalui tindakan (doing), cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya. Siswa akan menghargai keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya. Siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan .
Selanjutnya Kolb mengemukakan, bahwa setiap individu  tidak didominasi oleh satu gaya belajar tertentu secara absolut, tetapi cenderung membentuk  kombinasi dan konfigurasi gaya belajar tertentu,  yang diklasifikasikannya ke dalam 4 (empat)  tipe:
Tipe Belajar Kolb
Tipe 1. Diverger.
Tipe ini perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan  Reflective Observation (RO), atau dengan kata lain kombinasi dari perasaan (feeling) dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Diverger memiliki keunggulan dalam kemampuan imajinasi dan melihat situasi kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda, kemudian menghubungkannya menjadi sesuatu yang bulat dan utuh. Pendekatannya pada setiap situasi adalah “mengamati” dan bukan “bertindak”.  Siswa seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide  dan gemar mengumpulkan berbagai informasi, menyukai isu tentang kesusastraan, budaya, sejarah, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “Why?”. Peran dan fungsi  guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai Motivator.
Tipe 2. Assimilator.
Tipe kedua ini  perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC)  dan  Reflective Observation (RO) atau dengan kata lain kombinasi dari pemikiran  (thinking) dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Assimilator memiliki keunggulan dalam memahami dan merespons berbagai sajian informasi serta mengorganisasikan merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas.  Biasanya siswa  tipe ini cenderung lebih teoritis, lebih menyukai bekerja dengan ide serta konsep yang abstrak,  daripada bekerja dengan orang.   Mata pelajaran yang yang diminatinya adalah bidang sains dan matematika.  Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What?”.  Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Expert.
Tipe 3. Converger.
Tipe ini  perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC)  dan  Reflective Observation (RO) atau dengan kata lain kombinasi dari berfikir (thinking) dan berbuat (doing). Siswa mampu merespons terhadap berbagai peluang  dan mampu bekerja  secara aktif dalam setiap tugas yang terdefinisikan secara baik. Siswa  gemar  belajar bila menghadapi soal dengan jawaban yang pasti, dan  segera berusaha mencari jawaban yang tepat.  Dia mau belajar secara trial and error hanya dalam lingkungan yang dianggapnya relatif aman dari kegagalan.
Siswa dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebih menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif). Dia cenderung tidak emosional dan lebih menyukai bekerja yang berhubungan dengan benda dari pada manusia, masalah sosial atau hubungan antar pribadi.
Mata pelajaran yang yang diminati adalah bidang IPA dan teknik. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “How?”.  Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Coach,  yang dapat menyediakan praktik terbimbing  dan dapat memberikan umpan balik yang tepat.
Tipe 4. Accomodator
Tipe ini  perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan  Active Experimentation (AE)  atau dengan kata lain kombinasi antara  merasakan   (feeling) dengan berbuat (doing). Siswa tipe ini senang mengaplikasikan materi pelajaran dalam berbagai situasi baru untuk memecahkan berbagai masalah nyata yang dihadapinya. Kelebihan siswa tipe ini memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru yang menantang. Dalam usaha memecahkan masalah, mereka biasanya mempertimbangkan faktor manusia (untuk mendapatkan masukan/informasi) dibanding analisa teknis. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi/dorongan hati daripada berdasarkan analisa logis, sering  menggunakan trial and error dalam memecahkan masalah, kurang sabar dan ingin segera bertindak. Bila ada teori yang tidak sesuai dengan fakta cenderung untuk mengabaikannya. Mata pelajaran yang disukainya yaitu berkaitan dengan lapangan usaha (bisnis) dan teknik.
Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What if?”.  Peran dan fungsi guru dalam berhadapan dengan siswa tipe ini  adalah berusaha menghadapkan siswa pada “open-ended questions”, memaksimalkan kesempatan siswa untuk mempelajari dan menggali  sesuatu  sesuai pilihannya. Penggunaan Metode Problem-Based Learning  tampaknya sangat cocok  untuk siswa tipe yang keempat ini.
=================
Sebagai guru, Anda pasti memiliki pengalaman tertentu dalam menghadapi gaya belajar siswa Anda yang beraneka ragam.  Bisakah  Anda ceritakan di sini bagaimana pengalaman Anda itu?