kampoengkoe

Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2012

kampoengkoe


1983
Selasa empat Mei 1976, aku dilahirkan entah jam berapa. Hari , tanggal tertera jelas di akte kelahiranku. Tahun 1983 aku masuk sekolah dasar induk di desa ku, kelas dengan ubin yang dingin dan selalu berpindah. Perpustakaan yang komplit dengan bacaan bergambar menjadi serbuanku saat istirahat, kepada penjaga mendaftar dengan uang sewa buku, boleh di bawa pulang dengan waktu 3 hari. Jajanan yang membuat ku kenyang yaitu “gado-gado’ kangkung dengan bumbu kacang, makanan khas wa sene, biasa dipanggil seperti itu. sambil makan , aku sering menonton pertunjukan kakak kelas yang sedang latihan angklung, kesenian tradisi jawa barat. Kerap kali bermain di empang samping kelas satu, mencari kecebong.
Kampungku kearah utara dari pusat desa, kampong yang memanjang mengitari pesawahan luas, hijau pada saat tnndur, kuning keemasan saat menjelang panen raya. Pekerjaan masyarakatnya hanya bertani padi sawah, kadang di selingi pekerjaan sampingan seperti jual beli ternak ayam, entog dan kambing. Jalan tanah memanjang satu arah kedesa tetangga yang berbatasan dengan laut jawa menjadi satu-satunya sarana transportasi.
Sepulang sekolah aku dan kawan-kawan,biasa menggembalakan kambing domba dan kambing jawa. Ngangon adalah pekerjaan anak kampong kami,bila panen telah selesai kambing-kambing di angon ke petak – petak sawah, bila musim tanam dan penghujan, kami ngarit rumput d tanggul sungai Citarum di desa tetangga. Rutinitas seperti itu tidak pernah membuat kami lupa bahwa kami anak kelas satu SD induk desa kami, belajar tetap kami lakukan di malam hari bada magrib selepas mengaji di kong dul. Mengaji bagi kami sebuah kebutuhan walau dengan cara mengaji nalar, yaitu surat- surat juz ama kami hapalkan. Uniknya tradisi dalam mengaji bila ada anak yang bacaannya sampai di surat lam yakunil, maka si anak itu wajib membawa nasi kuning lengkap dengan lauk ayamnya dan di bagikan kesetiap anak yang mengaji,demikian juga ketika naik bacaan ke Al-quran, maka si anak wajib membawa nasi uduk sebagai pertanada bahwa dia naik bacaan.
Kadang kami ngangon ke unur yang ada di tengah-tengan pesawahan, unur jiwa (kelak dikenal Candi Jiwa),yang lebat dengan rumput hijau dengan batu-bata yang kadang kami susun seperti benteng dan tempat kami bermain perang-perangan.ketika kambing- kambing kami asyik merumput dan kami selesai bermain perang-perangan, kami pergi ke unur wa nebih( sekarang di kenal candi Blandongan), mencari buah-buahan seperti pepaya masak, sirsak dan ciplukan sejenis rumput yang berbuah enak di makan. Kedua unur ini oleh masyarakat kami dikenal angker, cerita dari mulut ke mulut orang-orang tua kami. Namun kami anak-anak yang masih polos, belum mengerti tentang dunia mistis, angker dan hal-hal yang menyeramkan. Kami asyik bermain ambil ngangon kambing. Memang bilad lihat dari luar unur ,dengan lebatnya pepohonan kesan angker memang adanya.
Bersambung…………

Jumat, 30 Desember 2011

Senin itu 26 Januari 2009 bapak meninggal, masih ku ingat ppukul 04.25 selepas adan subuh dia hembuskan nafas penghabisan, menghadap sang penciptanya.Sholat subuhku pagi itu berurai air mata, deras.Tangisan kakak dan adik-adikku coba kutengahi betapa bapak menginginkan kita anak-anak untuk menjadi anak yang berbakti.Ada gurat ikhlas dari menutup matanya, karena sebelumnya sudah banyak wasiat yang dia tuturkan untuk kami anak-anaknya.
Dia, bapakku  memang tak pernah meninggalkan apa-apa untuk kami anak-anaknya, hanya sebidang tanah yang di tempati rumahnya dan kakakku yang kedua. Namun rentang sejarah semasa hidupnya, banyak filosopi yang di bangun untuk kami, diajarkan bagaimana hidup yang punya norma dan agama, dia ajarkan tentang kemandirian, ulet ,teguh pendirian. Hingga saat ini kami anak-anaknya menjadi orang yang mandiri. Bapakku memang termasuk orang yang biasa saja, tidak ada yang istimewa dalam dirinya, namun ada satu kebanggaan buat kami yaitu dia tak pernah mengeluh dan pantang menyerah.
di hari kematiannya senin pagi itu di sambut dengan rintik hujan dan kilat serta guruh,seakan mengilhami dan memberi kabar kepada manusia di dunia ini, bahwa ada manusia istimewa yang meninggal. Aku berdoa semoga hujan itu bukanlah fitnah atas kematianya, namun rahmat Allah yang tak terkira buat masyarakat kami yang nota bene adalah petani, yang memang sangat membutukan air karena menurut kabar teman yang bekerja di Perum PJT II bahwa pasca banjir yang menjebolkan tanggul kali Citarum dan tanggul irigasi maka Pemerintah daerah kotaku perlu waktu untuk memperbaiki tanggul-tanggul tersebut.
Berbondong manusia datang melayat, turut ikut berduka dan berbela sungkawa kepada kami, ucapan kata sabar dan tabah datang silih berganti untuk kami. Betapa perkawanan dan pertemanan  sesama manusia di buktikan dengan budaya melayat.
Kilat dan Hujan serta sempitnya rumah kami di tambah jalan yang becek dan licin tidak menjadi halangan para pelayat itu, seakan ingin ungkapkan kata dan tatapan terakhir untuk bapak ku.

Minggu, 25 Desember 2011

kampoengkoe

Cerita dari pinggir Citarum

Evi kecil menatap lembaran-lembaran buku tulisnya mengambang, dia tertawa riang. Lembaran itu seperti perahu, pensil warnanya tenggelam tak dia perdulikan, entah kemana. sepatu warna pinknya hadiah lebaran ikut hanyut kelaut, malam ketika dia masih tidur, pagi itu sisa lumpur menggunung kecil di sekitar rumahnya. kaki kecil itu berlari sampai di gerbang sekolahnya yang tak berpagar, lambaian sang ibu guru muda memanggilnya. masuk kelas dilipat tangannya berdoa dengan suara lantang dan riang. Evi kecil tertegun ketika hendak menulis, dia tak menangis karena tas biru muda bergambar boneka barby berisi mainannya, bukunya telah ia keluarkan sebelum banjir datang. Evi kecil bermain riang dengan mainannya.
(Sehari Sebelum banjir Citarum)

kampoengkoe


1983
Selasa empat Mei 1976, aku dilahirkan entah jam berapa. Hari , tanggal tertera jelas di akte kelahiranku. Tahun 1983 aku masuk sekolah dasar induk di desa ku, kelas dengan ubin yang dingin dan selalu berpindah. Perpustakaan yang komplit dengan bacaan bergambar menjadi serbuanku saat istirahat, kepada penjaga mendaftar dengan uang sewa buku, boleh di bawa pulang dengan waktu 3 hari. Jajanan yang membuat ku kenyang yaitu “gado-gado’ kangkung dengan bumbu kacang, makanan khas wa sene, biasa dipanggil seperti itu. sambil makan , aku sering menonton pertunjukan kakak kelas yang sedang latihan angklung, kesenian tradisi jawa barat. Kerap kali bermain di empang samping kelas satu, mencari kecebong.
Kampungku kearah utara dari pusat desa, kampung yang memanjang mengitari pesawahan luas, hijau pada saat tandur, kuning keemasan saat menjelang panen raya. Pekerjaan masyarakatnya hanya bertani padi sawah, kadang di selingi pekerjaan sampingan seperti jual beli ternak ayam, entog dan kambing. Jalan tanah memanjang satu arah ke desa tetangga yang berbatasan dengan laut jawa menjadi satu-satunya sarana transportasi.
Sepulang sekolah aku dan kawan-kawan,biasa menggembalakan kambing domba dan kambing jawa. Ngangon adalah pekerjaan anak kampung kami,bila panen telah selesai kambing-kambing di angon ke petak – petak sawah, bila musim tanam dan penghujan, kami ngarit rumput d tanggul sungai Citarum di desa tetangga. Rutinitas seperti itu tidak pernah membuat kami lupa bahwa kami anak kelas satu SD induk desa kami, belajar tetap kami lakukan di malam hari bada magrib selepas mengaji di kong dul. Mengaji bagi kami sebuah kebutuhan walau dengan cara mengaji nalar, yaitu surat- surat juz ama kami hapalkan. Uniknya tradisi dalam mengaji bila ada anak yang bacaannya sampai di surat lam yakunil, maka si anak itu wajib membawa nasi kuning lengkap dengan lauk ayamnya dan di bagikan kesetiap anak yang mengaji,demikian juga ketika naik bacaan ke Al-quran, maka si anak wajib membawa nasi uduk sebagai pertanada bahwa dia naik bacaan.
Kadang kami ngangon ke unur yang ada di tengah-tengan pesawahan, unur jiwa (kelak dikenal Candi Jiwa),yang lebat dengan rumput hijau dengan batu-bata yang kadang kami susun seperti benteng dan tempat kami bermain perang-perangan.ketika kambing- kambing kami asyik merumput dan kami selesai bermain perang-perangan, kami pergi ke unur wa nebih( sekarang di kenal candi Blandongan), mencari buah-buahan seperti pepaya masak, sirsak dan ciplukan sejenis rumput yang berbuah enak di makan. Kedua unur ini oleh masyarakat kami dikenal angker, cerita dari mulut ke mulut orang-orang tua kami. Namun kami anak-anak yang masih polos, belum mengerti tentang dunia mistis, angker dan hal-hal yang menyeramkan. Kami asyik bermain sambil ngangon kambing. Memang bila di lihat dari luar pagar bambu unur jiwa dan unur wa nebih, dengan lebatnya pepohonan kesan angker memang adanya.
Bersambung…………