Lelaki dan rembulan
Bulan itu masih malu
Mengintip, berlindung di awan
Terangnya jatuh di pepohonan bambu
Riapannya bergoyang di tiup angin
Lelaki termangu, duduk bersandar bimbang
Pada langkah di perempatan
Menunduk pada bumi,mendongak pada langit
Mencari sebuah jawaban
Atas lelah sebuah perjalanan
Malam itu bernyanyi tak tentu irama
Menghentak pada nada-nada sumbang
Senandung sang burung malam
Yang melagu menyayat pilu
Ada bait yang terputus
Ada syair yang terhampar
Akankh tetap berpijak pada bumi
Lagu itu begitu menyayat pilu
Akan kemana angin membawa
Bulan dimana purnamamu?
Lelaki dan anaknya
Malam ini……….
Sama dengan yang kemarin
Masih menggoreskan sederetan kisah pengantar lelap dibuai mimpi
Bersandar pada pintu harapan
Dengan kunci-kunci yang bergelantungan
Satu persatu memahat rasa
akan sebuah kebebasan
kutatap tidur lelap anakku
dalam iram dengkur yang teratur
sayup-sayup kudengar menjadi kata
abi…… aku punya cita-cita
berbias indah kesempurnaan
dengan warna keemasan
kuturutkan engkau…wahai anakku
dalam cita kemuliaanmu
`
Tahajud
Senja keemasan di sore itu
Ketika burung malam keluar sarang
Melagu indah menyambut bintang
Berbinar ria di bawah rembulan
Setangkup doa kulayangkan
Dalam simpuh merendah
Mendayu indah dalam lagu
Dalam alunan sholat malam
Tuhan yang perkasa…
Engkau kekasih dalm cinta
Engkau haribaan kemesraan
Engkau anugerah kenikmatan
Engkau penyayang yang amat santun
Kening berpagut sajadah
Dengan butiran-butiran kepasrahan
Setumpuk beban mendera
Lepaskanlah ya Allah.
Detik itu bukan menit
Melesat melebihi anak panah
Cepat sekelip mata
Kejap dalam kesiap
Segengam asa terburai pasrah
Dalam dekap ,merengkuh dada
Kosong, hampa, sepi,
Terkatup dalam gelap
Melayang, terbang dari genggaman
Kepalan terbuka berhamburan
Samnbaran angin mengehmaps paksa
Pada tubuh letih, lesu, lunglai
Secercah dalam pijaran
Memercik dalam terang
Ada bait dalam senyuman
Sebagai doa yang di panjaatkan
Boleh G Q post kan puisi MU d fb Q?
BalasHapus