1983
Selasa empat Mei 1976, aku dilahirkan entah jam berapa. Hari , tanggal tertera jelas di akte kelahiranku. Tahun 1983 aku masuk sekolah dasar induk di desa ku, kelas dengan ubin yang dingin dan selalu berpindah. Perpustakaan yang komplit dengan bacaan bergambar menjadi serbuanku saat istirahat, kepada penjaga mendaftar dengan uang sewa buku, boleh di bawa pulang dengan waktu 3 hari. Jajanan yang membuat ku kenyang yaitu “gado-gado’ kangkung dengan bumbu kacang, makanan khas wa sene, biasa dipanggil seperti itu. sambil makan , aku sering menonton pertunjukan kakak kelas yang sedang latihan angklung, kesenian tradisi jawa barat. Kerap kali bermain di empang samping kelas satu, mencari kecebong.
Kampungku kearah utara dari pusat desa, kampung yang memanjang mengitari pesawahan luas, hijau pada saat tandur, kuning keemasan saat menjelang panen raya. Pekerjaan masyarakatnya hanya bertani padi sawah, kadang di selingi pekerjaan sampingan seperti jual beli ternak ayam, entog dan kambing. Jalan tanah memanjang satu arah ke desa tetangga yang berbatasan dengan laut jawa menjadi satu-satunya sarana transportasi.
Sepulang sekolah aku dan kawan-kawan,biasa menggembalakan kambing domba dan kambing jawa. Ngangon adalah pekerjaan anak kampung kami,bila panen telah selesai kambing-kambing di angon ke petak – petak sawah, bila musim tanam dan penghujan, kami ngarit rumput d tanggul sungai Citarum di desa tetangga. Rutinitas seperti itu tidak pernah membuat kami lupa bahwa kami anak kelas satu SD induk desa kami, belajar tetap kami lakukan di malam hari bada magrib selepas mengaji di kong dul. Mengaji bagi kami sebuah kebutuhan walau dengan cara mengaji nalar, yaitu surat- surat juz ama kami hapalkan. Uniknya tradisi dalam mengaji bila ada anak yang bacaannya sampai di surat lam yakunil, maka si anak itu wajib membawa nasi kuning lengkap dengan lauk ayamnya dan di bagikan kesetiap anak yang mengaji,demikian juga ketika naik bacaan ke Al-quran, maka si anak wajib membawa nasi uduk sebagai pertanada bahwa dia naik bacaan.
Kadang kami ngangon ke unur yang ada di tengah-tengan pesawahan, unur jiwa (kelak dikenal Candi Jiwa),yang lebat dengan rumput hijau dengan batu-bata yang kadang kami susun seperti benteng dan tempat kami bermain perang-perangan.ketika kambing- kambing kami asyik merumput dan kami selesai bermain perang-perangan, kami pergi ke unur wa nebih( sekarang di kenal candi Blandongan), mencari buah-buahan seperti pepaya masak, sirsak dan ciplukan sejenis rumput yang berbuah enak di makan. Kedua unur ini oleh masyarakat kami dikenal angker, cerita dari mulut ke mulut orang-orang tua kami. Namun kami anak-anak yang masih polos, belum mengerti tentang dunia mistis, angker dan hal-hal yang menyeramkan. Kami asyik bermain sambil ngangon kambing. Memang bila di lihat dari luar pagar bambu unur jiwa dan unur wa nebih, dengan lebatnya pepohonan kesan angker memang adanya.
Bersambung…………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar